Akseswarganet – Goldman Sachs Tingkatkan Investasi Bitcoin Hampir 90%
Perusahaan perbankan investasi Goldman Sachs terus memperluas eksposurnya terhadap Bitcoin dengan menambah kepemilikan dalam ETF Bitcoin hampir 90%, berdasarkan laporan terbaru yang disampaikan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).
Dalam laporan yang dirilis pada 12 Februari, yang mencakup data kuartal keempat 2024, Goldman Sachs kini memiliki saham di iShares Bitcoin Trust ETF (IBIT) senilai USD 1,27 miliar atau setara dengan 24.077.861 lembar saham.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 88% dibandingkan periode sebelumnya pada Juli-September 2024.
ETF iShares Bitcoin Trust dirancang untuk memberikan akses kepada investor institusional ke Bitcoin tanpa harus membeli dan menyimpan aset kripto secara langsung. Selain IBIT,
Goldman Sachs juga meningkatkan investasinya di Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC),
dengan kepemilikan sebesar USD 288 juta atau 3.530.486 lembar saham, naik 105% dari kuartal sebelumnya.
FBTC juga berfungsi sebagai sarana investasi bagi institusi untuk mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga Bitcoin dengan regulasi yang lebih jelas.
Penyesuaian Investasi dan Arus Keluar ETF Bitcoin
Selain meningkatkan kepemilikan, Goldman Sachs juga melakukan penyesuaian strategi investasinya dengan mengurangi atau menutup posisi di beberapa ETF Bitcoin lainnya.
Namun, per 31 Desember 2024, bank investasi ini tetap memiliki opsi beli IBIT senilai USD 157 juta, opsi jual IBIT sebesar USD 527 juta, serta opsi jual FBTC senilai USD 84 juta.
Sementara itu, pasar ETF spot Bitcoin mengalami arus keluar yang cukup besar. Pada 10 Februari, total dana yang ditarik mencapai USD 186,3 juta,
dengan arus keluar terbesar berasal dari Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) sebesar USD 136,1 juta,
diikuti oleh ARK 21Shares Bitcoin ETF (ARKB) dengan USD 34,0 juta, serta Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) sebesar USD 46,3 juta.
Penarikan Dana
Beberapa ETF lainnya seperti Valkyrie Bitcoin Fund (BRRR) dan VanEck Bitcoin Trust (HODL) juga mengalami arus keluar, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.
Dalam seminggu terakhir, penarikan dana terbesar terjadi pada 3 Februari dengan total mencapai USD 234,4 juta dalam satu hari.
Sejak diluncurkan, iShares Bitcoin Trust (IBIT) yang dikelola oleh BlackRock telah mengumpulkan 40.850 BTC,
sementara Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) memiliki 12.644 BTC, dan Bitwise Bitcoin ETF (BITB) mengelola 2.315 BTC.
Di sisi lain, Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) terus mengalami penarikan besar dengan total arus keluar mencapai 21.952 BTC,
karena investor lebih memilih ETF lain yang menawarkan biaya lebih rendah.
Harga Bitcoin Masih Lesu Menunggu Sentimen The Fed
Sebelumnya, pasar akan memperhatikan sejumlah sentimen yang dapat mempengaruhi aset tradisional dan kripto.
Salah satu sentimen berasal dari pernyataan Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell.
Bitcoin sempat jatuh di bawah USD 95.000 pada 9 Februari setelah laporan menyebutkan bahwa China akan menerapkan tarif pada impor energi dari Amerika Serikat (AS),
termasuk minyak mentah dan gas alam cair. Hal ini dikutip dari keterangan resmi, Rabu (12/2/2025).
Namun, respons cepat Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif 25% pada impor baja dan aluminium berhasil mendorong pemulihan Bitcoin ke level USD 97.838 pada 11 Februari pukul 08.00 WIB.
Ethereum Mencuri Perhatian Investor
Di sisi lain, Ethereum (ETH) menjadi aset yang lebih menarik perhatian pekan lalu. Investor tampaknya melihat peluang untuk membeli setelah harga ETH turun ke sekitar USD 2.100.
Data dari SosoValue menunjukkan bahwa perdagangan ETF Ethereum spot di AS menarik arus masuk sebesar USD 420 juta,
melampaui aliran dana ke ETF Bitcoin untuk pertama kalinya tahun ini.
Saat ini, Ethereum diperdagangkan di kisaran USD 2.670, masih 45% di bawah rekor tertingginya di November 2021 yang mencapai USD 4.878.
Perdagangan ETF spot Bitcoin di AS masih mencatatkan arus masuk positif sebesar USD 203,54 juta antara 3 hingga 7 Februari 2025,
meskipun para investor tetap waspada terhadap aset berisiko karena ketidakpastian global yang disebabkan oleh kebijakan tarif AS.